Mumbai
Bulan Desember lalu, aku dapat kesempatan pergi ke Mumbai a.k.a Bombai.
Dalam rangka tugas kantor lah, kalo biaya sendiri sih mending ke Eropa daripada ke Mumbai.
Ini kesanku tentang Mumbai:
1. International Airportnya mulai sibuk pk 11 malem sampe pagi. Gak tau kenapa, hampir semua international flight mendarat di bandara Mumbai mulai pk. 11 malem. Otomatis, hotel2 mulai sibuk juga tengah malam, so kalau gak mau emosi, kalau ada rencana mau complaint atau pesan room service, better you do it before midnite, kalo udah jam 11 malam mereka akan mulai sibuk menerima tamu yang check-in.
BTW, International Airportnya mirip airport di Balikpapan (besarnya maupun bangkunya) - sayang gak sempet foto di sini.
2. Keluar dari airport, kita serasa kembali ke tahun 60-an. Semua taxi yang ber-argo adalah mobil Fiat Hitam tahun 60 something. Dan semua taxi itu tidak ber AC! Kalau mau taxi ber AC, tidak pakai argo. So, it’s your choice mau naek yang berargo tapi kemringet atau naek yang berAC tapi gak ber-argo:) Taxinya seperti terlihat di foto ini:
3. Berbagai macam model dan ukuran bajaj ada di Mumbai, dari yang seperti bajaj kita di sini (tapi semua bajaj ukuran bajaj di sini warnanya hitam….. ), seukuran tuktuk di Thailand (warna hitam juga), sampai bajaj-bajaj modifikasi, seperti ini:
4. Di dekat airport bertebaran hotel-hotel mewah : ITC Sheraton Grand Marantha (aku nginep di sini! Penjaga pintunya kumisnya ajegile….), Le Meridien dan Grand Hyatt. Tapi sekitarnya oh sungguh kumuh, entahlah di mana para bintang film Bollywood itu berada (secara Mumbai ini = Bollywood gitu loh), perasaan sejauh mata memandang kok kumuh semata
5. Saking padatnya jalanan, hampir setiap saat jalanan di Mumbai selalu macet cet cet cet. Jam 3 pagi pun masih macet bo. Kebanyakan kendaraan umum , terutama trucks ada tulisan “HORN PLEASE” di bagian belakangnya. Jadi kebayanglah, gimana berisiknya bunyi klakson di jalanan di Mumbai. Pusinngggg deh dengernya. Sebagian besar kendaraan, dari bajaj sampai Mercy keluaran terbaru gak pake spion kiri, saking padatnya jalanan. Kata mereka, daripada patah ketabrak-tabrak, mending dicabut aja:)
6. Ada peraturan aneh di mumbai. Katanya (tidak dijamin kebenarannya seehhh), kalau mereka nge cat rumah / bangunan mereka, itu dianggap renovasi, dan pajaknya (semacam PBB=Pajak Bumi & Bangunan gitu di sini) jadi naek berapa ratus persen gitu. So, akibatnya, rumah dan bangunan di sana jarang yang bercat baru, semuanya udah pada ngelupas catnya, menambah kumuhnya pemandangan.
Demikian sekilas kesan tentang Mumbai



